Penulis: Muhammad Haikal Adha
Saya memulai di titik saat manusia (‘Indonesia’ karena sample yang saya lihat sehari-hari adalah manusia Indonesia) sudah enggan menormalisasi kompetensi, manusia benar-benar sudah menyerah dengan kondisi masa depan dan membuang begitu saja dengan bersikap pragmatis. Mereka enggan berkaca pada setiap bangunan yang dirobohkan oleh gravitasi, atas dasar seonggok ambisi singkat hingga tidak memedulikan seberapa kokoh fondasi.
Penulisan ini semata-mata ditujukan untuk mempertanyakan haluan manusia kedepan, terlepas dari begitu kuatnya unsur subjektifitas, maka penulisan ini dimaksudkan sebagai bahan reflektif yang dapat membangun kesadaran para pembacanya.
“Inkompetensi membunuh lebih banyak orang daripada kejahatan sekalipun.” -Bagus Muljadi.
Manusia hidup di era yang instan, era yang penuh dengan segala alat yang dapat mempermudah urusan, menjadikannya alasan agar tidak bekerja lebih keras. Sebagai mahasiswa hukum saya kerap dihadapkan dengan dilemma atas hukum dan moralitas, bolehlah saya analogikan hukum sebagai kapasitas rasio (akal) manusia yang sungguh terbatas dan moralitas sebagai daya peka intuitif yang semesta titipkan agar dapat menimbulkan tatanan hidup yang sejak awal zaman pra-aksara sudah membantu manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dewasa ini bahkan artificial intelligence sudah sangat jauh melampaui manusia, lalu apa yang masih tersisa? Apakah masyarakat memang dimaksudkan untuk bodoh dan gemarnya bersenang-senang, agar penguasa menerus riang sampai perut melulu kenyang?
Julien Benda pada bukunya La Trahison des Clercs (1927), seorang Intelektual konon dicirikan sebagai seseorang yang berpendidikan tinggi secara formal, sedangkan cendekiawan tak memerlukan berbagai pengakuan itu.
Meskipun terdapat sedikit pergulatan antar makna, pada pokoknya Benda mencoba untuk menunjukkan bahwa tugas seorang cendekia utamanya bukanlah mengejar tujuan praksis demi kepuasan pribadi, melainkan kegembiraan dalam mengolah ilmu, seni maupun kontemplasi hingga ranah metafisik.
Seorang cendekiawan (termasuk agamawan dan seniman) tidak silau oleh apa yang nampak, tetapi merenungkan apa yang tersembunyi di belakang gejala-gejala yang dicerapnya dengan pancaindra.
Pergumulan mengenai inkompetensi bermuara pada tragedi bencana ekologis yang dipicu oleh kerusakan lingkungan dan buruknya tata kelola negara. Banjir dan longsor yang besar menimpa Sumatera merupakan salah satu dari sekian banyak konklusi yang diberikan oleh semesta yang disebabkan oleh inkompetensi.
Menurut hemat penulis inkompetensi bukan saja berhenti pada kemampuan untuk berpikir, tetapi keinginan hati untuk tetap teguh pada panggilan moral juga menentukan. Acap kali kita menemukan sekian banyak koruptor di negeri ini besar di lingkungan yang mapan dan berpendidikan, tetapi inkompeten dalam pengembangan kemampuan intuisi dan daya bermoral.
Lantas bagaimana seharusnya seorang cendekia menjadi?
Bagi Antonio Gramsci (1978), seorang cendekia memiliki tanggung jawab menggabungkan ketidakpuasan individu ke dalam bentuk aktivisme sosial kolektif, ia memanifestasikan bahwa keilmuan seorang cendekia mampu menghadirkan pergerakan yang nyata dan mampu menjadi aktor perubahan sosial.
Menurut Gramsci meskipun diterjang tekanan dan ancaman, kebenaran itu patut untuk diperjuangkan. Edward Said (1994) juga memiliki pandangan yang identik dengan Gramsci dalam bukunya Representations of the Intellectual, bahwa seorang cendekia cakap dalam mengungkapkan sesuatu yang bersifat oposisional, ia bebas dan lekang oleh sistem.
Menjadi seseorang yang senantiasa tanpa lelah mendahulukan daya ingin tahunya bukanlah perkara mudah. Manusia tidak didesain untuk selalu berpikir dengan kerasnya, ia dibalut dengan ketakutan dan keserakahan. Merdeka seratus persen tidaklah akan menyata, hanya ilusi jika tidak diperjuangkan.
Manusia akan selalu dilingkari jeruji besi, hingga diberondong oleh senjata api. Beruntunglah bagi mereka yang tetap mengedepankan prinsip dan mawas diri. Jadilah mereka yang tidak takut api kala ia berkobar, tidak takut tenggelam kala ombak besar datang menghujam.






