Universitas Adhyaksa

Opini Mahasiswa: Menyoal Passion: Kehendak Bereksistensi atau Sekadar Ambisi Buta?

Pergeseran makna yang terjadi terhadap kata passion dapat dilihat melalui berbagai respon manusia terhadap kata tersebut. Secara etimologi passion berasal dari bahasa latin kata passio yang berarti penderitaan atau kesengsaraan, sedangkan dalam pengertian bahasa inggris passion yang ditranslasikan ke bahasa Indonesia sebagai gairah, penulis menginterpretasikan problematika yang ditimbulkan karena konstruki sosial yang Foucault singgung sebagai madness atau kegilaan yang tidak bersifat biologis atau organik atau alami, tetapi suatu konstruksi yang dihasilkan karena peran suatu hegemon yang dapat memutar balik sistem hasil lobi-lobi bengis belakang meja. Lebih jauh, Foucault juga membahas mengenai kausalitas tersebut yang disalurkan melalui medium masyarakat dan budaya sebagai puppets dan yang berkuasa sebagai master.

Paragraf sebelumnya dimaksudkan sebagai pengantar dalam memahami pembahasan pada laman ini lebih jauh. Jadi apakah sebenarnya manusia benar-benar membutuhkan passion untuk dapat hidup lebih jauh? Atau mungkin sebenarnya manusia memang sudah didesain menjadi seperti mesin mekanis yang menjalani banalitas hidup melalui medium rutinitas selama puluhan tahun, menua, kering-kerontang dan kembali ke tanah (sebuah perumpamaan).

Kafka pada bukunya yang berjudul Metamorphosis, secara tersirat menyinggung pembacanya dengan seorang tokoh yang bernama Gregor Samsa, ketika pada suatu pagi kejadian aneh menimpanya, dalam buku tersebut digambarkan bahwa Gregor bermetamorfosis menjadi seekor hewan insekta (dalam berbagai interpretasi menjadi kecoa), hal yang pertama kali ia khawatirkan adalah bagaimana caranya ia dapat sampai ke kantornya dan bekerja dengan kondisi serupa. Ironi yang ditampilkan oleh Kafka pada bukunya tersebut membuat sebuah kerangka reflektif yang sangat berdampak bagi para pembacanya yang mungkin juga terperangkap dalam pola sistem yang dialami oleh Gregor.

Kembali ke pembahasan inti, penulis ingin sedikit memberikan gambaran bagaimana sistem yang mengikat dapat menjadi penjara tak kasat mata yang diciptakan secara struktural oleh para hegemon yang sudah disinggung sebelumnya. Sistem tersebut layaknya ember besi yang permukaan bagian dalamnya dibaluri gel pelicin dan masyarakat sebagai kura-kura bercangkang yang terkurung di dalamnya.

Merupakan suatu kemustahilan bagi sang kura-kura yang gerak tubuhnya dibatasi untuk merangkak naik keluar dari perangkap tersebut. Dengan proposi tubuh yang juga diikat oleh sebuah cangkang menandakan bahwa sebuah kebebasan memang merupakan suatu kemustahilan dan angan-angan belaka yang ditawarkan oleh iklan-iklan kapitalisme global.

Pasti para pembaca kerap kali mendengar, kerabat, teman dekat, atau seseorang yang tidak sengaja lewat berbicara,

‘Ga passion gua’ atau ‘masih nyari passion’ atau ‘bukan passion gua jadi keluar.’

Suatu terminologi yang dihasilkan dari pergolakan konstruk, menginterpretasikan passion sebagai suatu hal yang berkaitan dengan kesukaan, keindahan dalam rutinitas, jika sudah tidak suka atau nyaman maka dibuanglah sudah passion semu itu tadi?

Apabila kita beralih menggunakan batasan etimologi (memang pada akhirnya baik itu terminologi, maupun etimologi juga merupakan suatu konstruksi sosial, bahkan bahasa itu sendiri merupakan ciptaan manusia yang mengalami pergulatan sejarah ribuan tahun agar sampai di titik sekarang.) maka passion merupakan suatu penderitaan yang kita isi dengan bahan bakar kerelaan untuk melakukannya secara repetitif. Kerelaan itu sendiri yang membuat kita merasa lebih memaknai setiap langkah dan apa yang dilakukan setiap harinya, bukan hanya terjebak pada banalitas semu rutinitas yang kita anggap kita menerimanya dengan lapang dada.

Manusia pada dasarnya selalu memiliki kehendak untuk berkuasa layaknya yang disampaikan Nietzsche kala hidupnya saat kehendak masyarakat mendapat represifitas terhadap rasio yang diciptakan oleh kaum gereja. Pengetahuan dibatasi, sehingga manusia itu sendiri tidak menyadari keinginannya sendiri, keinginannya untuk dapat memiliki hidup yang lebih baik, untuk dapat memecahkan batas-batas yang diberikan sosial terhadap dirinya, hingga menjadi manusia yang utuh. Medium untuk berkuasa tadi-lah yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya, ada yang memang benar-benar mendapat posisi struktural suatu kekuasaan untuk berkuasa, baik dalam strata yang tinggi hingga yang rendah. Setiap manusia yang tidak dapat menyalurkan kehendaknya untuk berkuasa maka kehendak itu dapat disalurkan dalam bentuk lain, yakni inferioritas yang lebih parah terhadap dirinya sendiri karena merasa tidak ada hal yang dapat dilakukan lagi. Depresi-lah yang akan didapatkan ketika kesadaran terhadap inferioritas tidak diakuisisi sebelumnya dalam perjalanan hidup seseorang.

Jadi, untuk menjawab rumusan masalah di atas, dengan mengkombinasikan permasalahan yang diejawantahkan oleh Foucault, ironi yang digambarkan oleh Kafka, hingga deklarasi untuk menjadi manusia seutuhnya oleh Nietzsche, dapat disimpulkan bahwa untuk hidup di bawah langit yang semu maka perlu solusi-solusi yang sejalan dengan konsep tersebut. Dalam kata lain guna menjawab kegamangan yang ditimbulkan karena konstruksi biadab sosial yang kerap kali tidak sejalan dengan konsep kemanusiaan itu sendiri (penulis mungkin akan membahas lebih dalam mengenai konsep personality yang dibangun Hegel dan pandangan individualisme Oscar Wilde di lain waktu) kita hanya perlu menampilkan rupa-rupa yang diinginkan sosial, sederhananya kompromi. Memang terkadang memilukan untuk beraksi demikian, apa boleh buat?

Kemudian dalam menanggapi sebuah konsep terminologi passion penulis menyarankan bahwa pembaca hanya perlu menentukan satu, dua hal dalam hidup untuk dapat memaknai sepenuhnya. Memaknai dalam arti mengimplementasikan dengan menentukan perihal bagaimana dan di mana kita rela mengorbankan diri untuk mengalami penderitaan yang repetitif, tetapi tetap memaknai setiap tarik nafas yang diberi, bukan sekadar mencari apa yang suka dan nyaman untuk dilalui. Jangan biarkan diri hanya menjadi komoditi dan target manipulasi kapitalis yang akan basi.

Biarlah semua kegilaan yang dicipta mewujud mencekik realita selama, coba saja bunuh asa, tidak sedikitpun goyah. Kalian berada di antah-berantah, yang terombang-ambing di pasang ombak ketidaktahuan, mekanis tak berperasa.