Universitas Adhyaksa

Opini Mahasiswa – Beban Kaum Intelektual: Pesan Reflektif Demi Membangun Negeri

Muhammad Haikal Adha

Tempat menanggal segala beban yang diemban realita, tempat di mana ku buka jendela dunia, sejenak sesaat beristirahat di tengah hiruk-pikuk tugas yang menumpuk, perhatian teralih, pandang terenggut. Meskipun dihimpit oleh gelondong cetak tebal buku-buku hukum, buku yang berjudul Golongan Cendikiawan terbitan Yayasan Obor Indonesia memancarkan cercahnya. Sebuah cetakan yang tidak lebih dari 150 halaman, memiliki ukuran yang tidak melebihi diameter ibu jari tidak menutup potensinya untuk memiliki isi yang begitu berdampak, tajam menghujam akal yang hampir karam.

Terdapat suatu kalimat yang begitu menampar sribu satu kali wajah kebodohan, pada halaman vii dalam bab kata pengantar tersurat:

Seorang cendikiawan (termasuk agamawan dan seniman) mempunyai akar-akar metafisis, “sifat-sifat hakiki yang paling umum dalam diri manusia,” ia tidak tersilau oleh apa yang nampak, tetapi merenungkan apa yang tersembunyi di belakang gejala-gejala yang dicerapnya dengan pancaindra.

Di tengah maraknya mis-informasi, propagandis, kebohongan dan segala yang berbau kepentingan, penulis kerap kali dipertemukan dengan orang-orang yang masih percaya, masih yakin bahwa bangsa ini masih bisa diperbaiki, diperpanjang umur akal sehatnya.

Meskipun akhir-akhir ini sibuk mengurusi ke-semu-an, penulis tidak lupa untuk sedikit kembali merambah realita dengan sedikit-banyak peng-alam-annya. Ia terus mencoba membangun dunia agar sesamanya bisa hidup tentram, walaupun sekelilingnya hancur, terbakar tinggal debu yang menunggu hembus angin untuk bersemayam.

Kembali ke pembahasan semestinya, kabur layak biasa, memang tiada guna. Dewasa ini manusia-manusia yang mengaku terdidik, terpelajar, intelektuil, sebenarnya hanya akal-akalan buta. Mereka tiada lain seperti alat mekanis tua rongsok yang eksistensinya mulai terganggu karena kehadiran Artificial Intelligence/AI. Webinar sana, seminar sini membahas polemik yang ditimbulkan oleh inovasi number wahid zaman modern ini.

Sejatinya kita sudah kalah, benar-benar telak apabila dibandingkan dengan mahamesin itu yang memiliki jutaan database dan dapat mengakses ke seluruh sumber hanya dengan hitungan detik.

Ki Hajar Dewantara, tokoh besar pendidikan yang memprakarsai konsep Cipta, rasa, dan karsa, ketiga elemen sampai kapanpun AI tidak akan mampu untuk mencapainya, kalian mendapat kesempatan tersebut, alih-alih berpikir mekanis layak mesin yang hanya dapat menghafal tanpa mampu memaknai. Jual saja otakmu itu, atau ditransformasi jadi memori 256 gb, ketika penuh meminta langganan cloud, sungguh ironi.

Lagi-lagi saya akan mengatakan bahwa gelar bukan jaminan orang benar-benar terdidik, gelar bukan suatu hal yang perlu diagungkan layak tuhan yang maha esa. Ia semu, fana seperti kita, di alam kubur malaikat tidak akan bertanya apa judul skripsimu, bukan?

Gelar hanya tanda seseorang pernah menyelesaikan sekolah, bukan menyelesaikan kegiatan berpikir.

Bagi penulis kaum intelektual, bukan mereka yang sekadar hadir dalam kelas, bukan mereka yang sekadar berada di universitas, bukan mereka yang menggaungkan formalitas, bukan mereka yang sudah merasa di atas, bukan mereka yang selalu bergelut dengan identitas. Penulis menyerahkan kepada pembaca definisi dari kaum intelektual itu sendiri, dan penulis dengan sepenuh hati memohon untuk saling mengemban beban-beban kependidikan kedepan. Siapapun dan apapun peran kita di sana, jadilah mereka yang mencoba untuk memperbaiki dunia meski dunia yang diberikan padamu hancur tak berupa.

Leave a Comment